BAHASA ITU HIDUP
Renungan Tentang Bahasa
Oleh Sides Sudyarto DS
Manusia dan bahasa itu satu. Tidak ada manusia tanpa bahasa, tidak ada bahasa tanpa manusia. Maka jangan coba-coba meremehkan bahasa. Meskipun manusia selalu berbahasa, tidak secara otomatis orang menguasai bahasanya sendiri, apalagi bahasa asing. Bagaimanapun lekatnya manusia dengan bahasa, tetapi bahasa itu bukanlah warisan biologis manusia kepada keturunannya. Bahasa sungguh harus dipelajari.
Ketika anak itik keluar dari telur, ia langsung bisa berenang di atas air. Tetapi ketika bayi manusia lahir, ia belum bisa berbahasa. Tidak bisa bicara, tidak bisa berkata. Suara pertama bayi yang baru lahir, bukanlah kata, bukan bahasa, melainkan tangis. Hampir sama tangisan bayi yang baru lahir, namun selalu ada misteri di balik tangisan itu. Apa makna tangisannya? Kita hanya bisa menduga-duga saja.
Jika dikatakan tidak ad manusia tanpa bahasa, artinya semua manusia harus dan pasti berbahasa. Sebab bahasa itu sarana untuk menyampaikan isi hatinya kepada orang lain. Bahasa juga untuk memberitahukan kepada orang lain, apa yang kita kehendaki. Pun bahasa berguna untuk mengekspresikan perasaan kita, suka, duka, sedih dan gembira.
Jika dikatakan tidak ada bahasa tanpa manusia, artinya hanya manusia yang punya bahasa. Daun, hewan dan kehidupan lain di luar manusia, tidak punya bahasa. Mungkin hewan apa pun jenisnya bisa berkomunikasi dengan sejenisnya, tetapi bukan dengan bahasa. Suara induk ayam ketika memanggil-manggil anaknya, berbeda dengan suaranya ketika ia ketakutan karena ada elang menyerang.
Suara seekor anjing yang menggongong maling, lain dengan suaranya ketika menyambut kedatangan majikannya, yang biasa kasih makan kepadanya. Tetapi suara ayam dan anjing tidak termasuk bahasa. Bahasa harus diucapkan, mesti dikatakan. Alat-alat suara manusai yang berperan. Alat itu berada dalam mulut kita dan daerah sekitarnya: Bibir atas, bibir bawah, lidah, gigi, langit-langit, tenggorokan, semuanya merupakan komponen alat untuk bersuara. Mungkin ayam dan anjing tidak punya mulut sehebat kita, untuk mampu menciptakan atau melahirkan bahasa.
Ketika mengatakan sesuatu atau mengucapkan bahasanya, berarti manusia melakukan kegiatan atau aktivitas. Kasrna itulah Otto Jespersen dalam bukunya, Language, Its Development and Origin mengatakan, bahasa adalah activity. Aktivitas. Maksudnya, tentu satu aktivitas yang sangat berguna untuk hidup manusia di tengah masyarakatnya. Bayangkan, bagaimana sulitnya Anda pergi ke mana-mana, tanpa berbahasa! Namun bahasa lebih dari sekadar aktivitas atau kegiatan.
Bahasa juga seringkali diperlakukan sebagai makhluk hidup. Buktinya, ada orang bilang, “Novelmu enak dibaca, bahasanya hidup!” Lalu ada lagi ucapan mengatakan, “Profesor itu sedang meneliti bahasa-bahasa yang sudah mati.” Ada juga ungkapan lain, “Bahasa Prancis itu sangat cantik, bahas Jerman sangat gagah.”
Anehnya pula, ada orang yang menganggap bahwa bahasa itu, lumpuh tidak berdaya, bahkan mati! Apa alasannya? Bahasa tidak mempunyai hidupnya sendiri. Bahasa bisa hidup jika ia diuacapkan, di dengar, dibaca atau diingat oleh seseorang. Karena itu, sesungguhnya bahasa tidak hanya penting, tetapi juga menarik sekali untuk dipelajari. Maka wajarlah ada ilmu-ilmu bahasa. Tahukah Anda kapan kata-kata pertama kali diciptakan manusia? Mengapa manusia di seluruh dunia tidak menggunakan satu bahasa yang sama? Jawabnya, merupakan awal dari ilmu bahasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar