Tentang Fiksi Narasi
Oleh Sides Sudyarto DS
Fiksi (Fiction) menurut The Grolier International Dictionary berarti:
A literary work whose content is produced by the imagination and is not necessarily base on fact.
The category of literature comprising works of this kind, including novels, short stories, and plays.
Fiksi (Fiction) menurt Kamus Inggris - Indonesia, John M. Echols:
Cerira rekaan
Narrative Fiction
Slomith Rimmon -Kenan dalam bukunya Narrative Fiction, yang membahas sastra dengan titik pusat fiksi, selalu menggandengkan kata fiction dengan kata narrative: narrative fiction.
Dalam wacana kesastraan, penggandengan dua kata yang dilakukan Rimmon-Kenan itu sangat tepat. Sebab selama ini orang hanya mengatakan kata fiksi saja. Padahal, tidak semua fiksi itu terkait dan berarti jenis karya sastra. Di lain pihak, kata narrative (narasi) juga tidak selalu terkait dengan sastra. Narration (cerita) tidak selalu terkait dengan sastra. Sebab memang banyak cerita, kisah yang tidak tergolong karya sastra.
Lalu apa yang dimaksud narrative fiction menurut Slomith Rimmon-Kenan itu? Ia bilang, By narrative fiction I mean the narration of a succession of fictional events.
Terkait dengan narration itu adalah unsur-unsur:
Communication Process
Proses komunikasi dalam mana narasi sebagai massage (pesan) ditransmisikan oleh adresser (penuju) kepada addresee (tertuju).
Verbal Nature.
Sifat verbal dari medium untuk mentransmisikan pesan tersebut.
Tentang Fictional Events
Karya sastra yang berbentuk fiksi naratif berceritra tentang kejadian-kejadian (events) dan bukan satu kejadian (event). Walaupun sama-sama diceritakan, tetapi harusd ibeadakan antara fiksi naratif dengan cerita-cerita yang tergolong verbal, seperti: gosip, testimoni legal, laporan berita, buku sejarah, otobiografi, surat pribadi, dsb.
Tentang Fictional
Fiksi berisikan rangkaian kejadian-kejadian (peristiwa-peristiwa). Tentu saja yang dimaksudkan adalah kejadian-kejadian fiksional.
Seringkali kita mendengar pertanyaan, apakah mungkin mencampurkan yang fiksional dengan kejadian yang benar-benar terjadi? Mungkin saja, bahkan sering terjadi dalam proses kreativitas banyak pengarang. Tentu saja, apakah itu fakta, realitas, yang diserap dalam karya sastra (fiksi) harus diperlakukan sebagai fiksi dan hal ini bisa disebut fiksionalisasi fakta (realitas).
Unsur Pelaku
Dalam fiksi naratif, selain ada kejadian juga ada unsur pelaku. Karena pelaku lebih dari satu orang, maka setiap orang perlu diberi tanda dan itulah nama. Nama untuk pelaku tidak terelakkan. Tidak bisa dihindari. Jika penulis menghindari pemberian nama karena alasan tertentu, maka ia terpaksa menjelaskan siapa pelaku itu dengan ciri tertentu: Misalnya Si Gendut, Si Jangkung, Si Kacamata. Maka akhirnya itu pun jadI nama bagi pelaku yang bersangkutan.
Risiko penolakan penggunaan nama juga harus diperhitungkan. Risiko yang pertama adalah, penulis harus terus-menerus jadi narator. Maka apa yang terjadi ialah, bahwa seolah-olah penulis (pengarang) berbicara langsung dengan pembaca. Bisa-bisa kesan bahwa pembaca sedang membaca karya fiksi hilang, tergantikan oleh kesan bahwa ia sedang mendengar dongeng langsung dari penulis (narator).
Risiko kedua, dialog-dialog verbal yang harus diucapkan oleh para pelaku dalam fiksi naratif juga harusd isampaikan oleh narator, yang pada kasus tertentu bisa menimbulkan dampak negatif, seperti kesan menggurui, kotbah dlsb.
Struktur
Karya sastra, apakah itu novel, novela, atau cerpen pasti mempunyai struktur. Seperti halnya bangunan rumah, ada yang berarsitektur indah, sedang dan ada pula yang biasa-biasa saja. Dalam karya sastra, masalah struktur (rancang bangun, rancang bentuk) adalah satu keniscayaan. Makin tinggi kesadaran akan struktur karya fiksi narasi, makin tinggi tingkatan estetikanya.
Di mata kaum Formalis Rusia, dalam struktur itu antara lain terdapat alur dan cerita. Kedua masalah itu mereka pandang penting sekali. Menurut kaum Formalis Rusia, alur itulah yang sungguh-sungguh bersifat kesusasteraan. Di lain pihak, cerita hanyalah bahan mentah yang masih menanti pengolahan tangan penulis (Raman Selden, 8, 1991). Sastrawan Indonesia kebanyakan belum sadar struktur. Novelis yang sadar struktur hanya Pramudya Ananta Toer, terutama dalam karyanya, Bumi Manusia, sebagai bagian dari karya empat serangkainya (tetralogi), dan Iwan Simatupang, terutama karyanya Merahnya Merah dan Ziarah.
Penulis-penulis seperti Umar Kayam (Para Priyayi), Mangunwijaya (Burung Burung Manyar), menampakan diri sebagai sosok yang belum kenal dengan struktur dengan fungsi dan kekuatannya dalam fiksi narasi. Mereka baru dalam tingkatan menutur kan cerita, tetapi belum sampai menciptakan alur literer.
Bahasa
Proses komunikasi yang disinggung Rimmon-Kenan, pastilah berkaitan langsung dengan bahasa, sebab tidak ada komunikasi di luar bahasa. Karya fiksi narasi, agar bisa berkomunikasi tidak bisa tidak, harus melalui medium bahasa tertentu.
Satu karya fiksi narasi, sebuah novel, misalnya, adalah sebuah teks. Teks itu ditulis dalam bahasa tertentu. Maka sebuah novel berbahasa Prancis bagi yang tidak kenal bahasa Prancis, bukanlah apa-apa, tidak lebih dari gundukan kertas tanpa arti.
Fiksi narasi, juga tidak bisa berada di luar bahasa. Sayangnya, masih terlalu banyak penulis yang memandang bahasa hanya sebagai mdium belaka, tanpa menyadari bahwa bahasa itu sendiri adalah bagian integral yang menentukan kadar esettika setiap karya. Kita mungkin perlu membandingkan gaya bahasa satu pengarang dengan pengarang lainnya.
Misalnya antara bahasa sastra Pramudya Ananta Toer denga Iwan Simatupang. Gaya bahasa Pram lugas, komunikatif dan konventional. Gaya bahasa Iwan Simatupang liris, puitis dan sering filosofis, sehingga menuntut daya penafsiran yang tinggi dari pembacanya. Untuk membaca, memahami dan menikmati karya Pram, sekadar tidak buta huruf pun orang sudah mampu meangkap makna teks yang dihadapinya.
Pram, menurut berita, sudah dinominasikan untuk mendapatkan Hadiah Nobel, tetapi sampai sekarang ia belum mndapatkannya. Saya mengira ia tidak akan mendapatkan Hadiah Nobel, karena kreativitas dalam bahasa novelnya, tudaklah tampak. Kita bandingkan, gaya bahasa Pram dengan Gabriel Garcia Marquez yang sudah meraih Hadiah Nobel.
Bahasa Pram biasa saja, tidak menunjukkan semangat kreatif inovatif. Di lain pihak gaya bahasa Marquez begitu memukau, meski dengan baris-baris kalimat yang panjang, bahkan panjang sekali, namun karena kekuatan kreativitas dan estetika yang tergarap dengan canggih, maka ia mencapai keunggulan estetika bahasa yang tinggi.
Hingga sekarang ini, kebanyakan, atau pada umumnya, penulis-penulis fiksi narasi kita masih mengabaikan masalah babahasa, sehingga karya-karya mereka memiliki kelemahan yang signifikan. Para penulis seperti Budidarma, Putuwijaya, Ali Akbar Navis, Ramadhan KH, Ajip Rosidi, terjebak dalam kemandegan bahasa.
Mungkin hal itu dikarenakan mereka hanya mengandalkan bakat alam yang berada dalam dirinya masing-masing. Para pengarang terkemuka kaliber dunia umumnya berpendapat bahwa untuk menjadi penulis yang berhasil, bakat hanya 2% dan 98% persen adalah kerja keras.
Penulis-penulis terkemuka di Amerika Serikat, khususnya penulis yang kini tergolong sebagai sastrawan postmodernist, selain studi sastra juga mementingkan studi penulisan kreatif (creative writing).
Gagasan
Untuk menulis karya fiksi narasi diperlukan ide (gagasan). Tidak ada satu karya fisi narasi tanpa gagasan. Gagasan adalah esensi dari nilai-nilai yang hendak ditawarkan penulis kepada pembaca. Makin rajin menulis, seseorang makin mudah mendapatkan ide untuk karya-karyanya. Supaya sumber ide tidak kunjung habis, penulis juga perlu menimba ide-ide dari literatur yang luas. Rajin menulis tanpa rajin membaca, bisa menghasilkan karya yang tidak lebih dari isi keranjang sampah.
Karenma itu, sebaiknya sebelum mulai menulis patok dulu dalam catatan, ide atau gagasan apa yang akan kita tulis. Apakah ada nilainya untu umum (publik) yang merupakan pembaca (reader), apakah nilai itu sudah usang atau belum, terlalu remeh atau penting buat masyarakat, laku atau tidak laku sebagai karya seni?
Setelah Anda selesai menulis, tariklah kesimpulan, apakah karya itu sesuai dengan gagasan awal yang telah kita pilih? Dari situ Anda akan menyadari bahwa Anda berkarya untuk diri sendiri, ataukah untuk masyarakat sastra kapan saja dan di mana saja.
Literatur
1. Slomith Rimmon-Kenan, Narrative Ficition, Routlege, London & New York, 2001
2. Raman Selden, Teori Sastra Masa Kini, Gajah Mada University Press, 1991
3. Ann Jefferson & David Robey (Ed), Modern Literary Theory, Barnes & Noble Books, New Jersey, 1986
4. Victor Taylor and Charles E. Winquist (Ed), Encyclopedia of Postmodernism, Routledge, London & New York, 2004
5. Jonathan Culler, Structuralist Poetic, Routledge, London & New York, 2002.
Jakarta, 15 Juli 2005, SSDS.
Unsur Struktur Dalam Fiksi Narasi(1)
Oleh Sides Sudyarto DS
I.
Menurut The Grolier International Dictionary berarti:
A complex entity (Suatu entitas yang kompleks)
The configuration of elements, parts, or constituent in such an entity, organization, arrangement. (Konfigurasi dari elemen-elemen, bagian-bagian, atau unsur pokok dalam suatu entitas, organisasi, aransemen )
The interrelation of parts or the principle of organization in a complex entity. (Interrelasi dari bagian-bagian atau prinsip-prinsip organisasi dalam suatu entitas yang kompleks).
(Grolier Incorparated, Volume Twoo, Danbury. Connecticut, 1981)
Dalam karya fiksi (novel), suatu cerita hanyalah satumodal awal, atau bahan mentah yang memerlukan sentuhan kreativitas kreator (penulis) sehingga menjadi alur yang memiliki kadar kesasteraan. (Raman Shelden)
II
Renne Wellek and Austen Warren, Theory of Literature menjelaskan,
"Structure is concept including both content and form so far as they are organized for aesthetic purposes. The work of art is, then, considered as a whole system of signs, serving a specific aesthtics purpose. (Wellek/Warren, Penguin, Australia, 1970, h. 141) "This structure, however, is dynamic: it changess throughout the process of history while passing through the minds of its readers, critics, and fellow artists" (Idem, 155 - Mengacu Louis Teeter, Scholarship and the Art of Criticism , 1938, 173 - 93 ).
III
Teeuw, Sastra dan Ilmu Sastra, Pustaka Jaya, Jakarta, 1984: PP. 120 - 153) 1. Aristoteles dalam bukunya Poetica, yang ditulis di sekitar tahun 340 sebelum Masehi di Athena, meletakkan dasar yang kuat untuk pandangan yang menganggtap karya sastra sebagai struktur yang otonom.
2. Menurut pandangan Aristotels, dalam tragedi, action (tindakan) itulah yang penting bukan character (watak). Efek tragedi dihasilkan oleh aksi (action) plot (alur -isi cerita)-nya, dan untuk menghasilkan efek yang baik plot harus mempunyai keseluruhan (wholeness), untuk itu harus mempunyai empat syarat utama: Order, amplitude, (complexity), unity, connection (coherence).
Order: berarti urutan dan aturan; urutan aksi harus teratur, harus mnujukkan konsekuensi dan konsistensi yang masuj akal; terutama ada awal, pertengahan, pertengahan dan akhir yang tidak sembarangan.
Amplitude (Complexity): berarti bahwa luasnya ruang lingkup dan kekomplekan karya harus cukup untuk memungkinkan perkmbangan peristiwa yang masuk akal ataupun yang harus ada untuk menghasilkan peredaran dari nasib baik ke nasib buruk, atau sebaliknya.
Unity berarti bahwa semua unsur dalam plot harus ada, tak mungkin tiada, dan tidak bisa bertukar yempat tanpa mengacaukan ataupun membinasakan keseluruhannya.
Connection (Coherence) berarti bahwa sastrawan tidak bertugas untuk menyebut hal-hal yang sungguh-sungguh terjadi, tetapi hal-hal yang mungkin atau harus terjadi dalam rangka keseluruhan plot itu.
Catatan: Justru hal ini merupakan perbedaan hakiki antara sastrawan dan sejarawan: sejarawan menceritakan (apa) yang terjadi, sastrawan menceritakan peristiwa atau kejadian yang masuk akal atau harus terjadi, berdasarkan tuntutan konsistensi dan logika ceritanya.
Konsep Aristoteles itu ternyata tidak pernah menghilang dari dunia sastra Barat, malah dipegang dan dipertahankan oleh penulis maupun pembaca, sebagai konvensi dasar seni sastra. Tentu kelak ada berbagai aliran yang menunjukkan sikap atau pendapat berbeda, seperti yang ditunjukkan oleh aliran Kiritik Baru (New Criticism), Formalisme Rusia, Strukturalisme, Posstrukturalisme, Postmodernisme.
IV
Formalisme Rusia
Formalisme Rusia dirintis sejak tahun 1914, melalui pemikiran Victor Shklovsky yang diterbitkan di St. Petersburg: Sekarang seni kuno sudah mati, sementara seni baru bbelum lahir. Hal-hal lain juga telah mati - kita telah kehilangan perasaan terhadap dunia. Hanya kreasi bentuk-bentuk artistik baru yang dapat memulihkan kesadaran manusia terhadap dunia, membangkitkan semangat dan membunuh pesimisme. (DW Fokema et al, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1998, 13).
Para eksponen kaum Formalis Rusia adalah Roman Jakobson, Boris Eikenbaum, Osip Brik, Yury Tynyanov. Gerakan pemikiran Formalisme Rusia ini mendapatkan resapan pengaruh filosofis dari Edmund Husserl (Fenomenologi) dan Ferdinand de Saussure (Strukturaisme).
Prinsip-prinsip Teoretik Umum <> 1. Russian Formalism represents one of the earliest systematic attempts to put literary studies on an independent footing, and to make the study of literature an autonomous and specific discipline. (Jefferson and Robey, Modern Literary Theory, Barnes & Noble Books, New Jersey, 1986, P. 25)
2. Salah satu tujuan utama Formalisme adalah studi ilmiah mengenai sastra. Ini sebenarnya didasarkan kepada keyakinan bahwa studi seperti itu sangat mungkin dan memang pantas dilakukan. Bahkan, walaupun tidak didiskusikan lebih lanjut, keyakinan ini berlaku sebagai salah satu premis Formalisme. Tetapi setiap, setiap kali kaum Formalis mempertnayakan studi ilmiah sastra, mereka percaya bahwa studi-studi mereka akan meningkatkan kemampuan pembaca untuk membaca teks-teks satra dengan cara yang tepat, yaitu dengan memperhatikan sidat-sifat teks yang dianggap artistik dan sastawi. (Fokkema, Teori Sastra Abad Kedua Puluh, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1998, P. 15).
V.
Umberto Eco
Umberto adalah seorang novelis terkemuka kaliber dunia, dengan karya antara lain: The Name of The Rose, Faoucault's Pendulum, The Island of The Day Before, Baudolino. Selain itu, ia juga mashur sebagai eseis yang produktif dengabn pemikiran yang cemerlang. Bahkan Los Angeles Times, menggelari Umberto Eco sebagai "One of the most influential thinkers of our time." Kumpulan esei Umberto Eco antara lain: Five Moral Pieces, Kant and the Platypus, Travels in Hiperreality, To Travel With a Salmon.
1.
In order to understand what has to be done, we must refer to a fundamental theme of all modern narative theories, the distinction that the Russian Formalists made between fabula and sjuzet - term that I shall translate in the commonly accepted way as story and plot, (Umberto Eco, Six Walks in The Fictional Woods, Harvard University Press, Cambridge, Massachussetts, and London, England, 2001)
2.
Many theories of literature have insisted that the voice of the model author should be heard solely through the organization of facts (story and plot). (Ide, p.16)
Cerita Burung-Burung Manyar ditulis oleh Mangunwijaya, pertama terbit tahun 1981, oleh penerbit Djambatan, Jakarta, Cetakan Pertama Th. 1981.
Prawayang
Sebelum memasuki Bagian I (1934-1944), pembaca diisuguhi teks di bawah judul Prawayang. Tidak jelas apa maksudnya. Isinya ternyata menjelaskan bahwa ada raja (wayang) yang bernama Basudewa. Ia punya anak bernama Kakrasana (berkulit putih), Narayana (berkulit hitam) fan Dewi Lara Ireng (hitam) yang juga bernama Sumbadra. Dalam epos besar Mahabharata, dilukiskan perang besar antara Pandawa melawan Kurawa. Pandawa (lima kesatria) merebut warisan dai rangtuanya yang dikuasai secara tidak sah oleh Kurawa (seratus orang ).
Dalam perang yang mashur disebut Bharatayudha itu, Kakrasana (kelak Baladewa) memihak Kurawadan adiknya, Narayana (Kelak Kresna) memihak kebenaran, Pandawa. Selama hidupnya Baladewa memihak Kurawa sebab ia berhutang budi berupa fasilitas, jabatan, kekuasaan dan kekayan.
Tetapi kemudian, menjelang perang besar itu mencapai puncak dan klimaksnya, Kresna mempengaruhi Baladewa, agar tidak terjun perang dan sebaiknya pergi bertapa di bawah Grojogan Sewu (Seribu Air Terjun). Dengan demikian Baladewa tidak dengar apa-apa, selain suara air, dan ia pun tidak terlibat perang membantu majikannya, pihak Kurawa. Apa hubungan antara teks Prawayang dengan cerita Burung Burung Manyar itu? Pembaca sendiri harus mencari tahu.
Apakah itu ada kaitannya dengan pelaku utama novel tersebut, yang bernama Seta Dewa? Inilah persoalannya. Pengambilan nama Seta, berarti pemakaian nama tokoh wayang. Dalam dunia wayang purwa (wayang kulit) setiap figur ayang, sudah mempunyai karakternya masing-masing. Wayang Arjuna berkarakter Arjuna, wayang Bima berkarakter Bima, wayang Gatotkaca berkarakter Gatotkaca.
Maka ketika ada novel yang menggunakan nama Seta sebagai pelaku, bagi orang yang akrab dengan cerita wayang, bisa menimbulkan persoalan, paling tidak bayangan atau asosiasi karakter wayang yang melekat dengan tokoh tersebut. Tetapi, sudah bisa dipastikan, Seta dalam novel itu, berbeda dengan Seta dalam pewayangan.
Sinopsis
Setadewa (Teto) adalah anak kolong. Ia hasil campuran darah Indonesia-Belanda (Indo) yang kemudian masuk tentara Belanda (KNIL). Ketika Belanda ditumbangkan Jepang, Teto lari keluar negeri, kuliah di Harvard untuk studi komputer. Gadis yang dicintai Teto Atik, juga lulusan sekolah tinggi hingga kemudian menjabat sebagai Kepala Direktorat Pelestarian Alam.
Secara kebetulan, tesis Atik adalah perilaku burung-nung manyar. Paparannya dalam tesis itu dirasakan sebagai sindiran bahkan penelanjangan atas diri dan hidup Seta. Seta tidak menikah dengan Atik. Atik menikah dengan Janakatamsi. Di lain pihak, Seta kawin dengan Barbara, anak majikan di perusahaannya tetapi kemudian cerai.
Meskipun kasih Teto kepada Atik tak sampai, hubungan persaudaraan berlangsung terus. Ketika Teto membongkar skandal korupsi di perusahaannya ia dibantu oleh Janakatamsi, suami Atik. Akibatnya, Teto dipecat dan janakatamsi juga dipecat dari pekerjaannya. Sebuah silidaritas yang luar biasa.
Pada satu saat, orangtua Atiek menyampaikan pesdan lewat Teto, agar Atik dan suaminya pergi menunaikan ibadah haji. Mereka berangkat ke Tanah Suci, juga atas biaya yang ditanggung oleh Teto. Dalam perjalanan berhaji itulah Atiek dan suaminya tewas, karena kecelakaan pesawat terbang yang membawa mereka.
Atik meninggalkan tiga anak dan ketiganya kemudian fijadikan anak angkat oleh Setadewa. Demikianlah, novel ini berisikan kisah cinta sersegi banyak. Kisah kasi tak sampai itu mengingatkan kita kepada kebanyakan cerita-cerita zaman Pujangga Baru. Beda, atau kelebihannya, dalam cerita Mangunwijaya ini, ada seorang nonMuslim yang membiayai orang Muslim untuk pergi naik haji.
Tidak hanya itu, kesediaan dan keikhlasan Teto mengangkat anak ketiga putra putri Atik juga mengekspresikan jiwa seseorang yang sangat manusiawi, menghormati harga manusia lepas dari apa pun warna keyakinannya.
Bahasa
Bahasa yang digunakan pengarang dalam Buurng Burung Manyar adalah langgam bahasa kisan yang tertulis. Meskipun menggunakan bahasa Indonesia, namun mengguynakan langgam bahasa Jawa. Kadang juga kemasukan bahasa slang Betai seperti kata: bloon, dah dan deh. Kata Jawa bisa berubah jadi Jowu, artinya sangat bersifat Jawa.
Salah tulis, atau salah cetak, atau malah salah editing, banyak sekali. Hampir setiap halaman terjadi salah tanda baca, anda baca tidak lengkap, penggunaan huruf besar (kapital) yang tidak perlu. Juga banyak kata-kata sing (Belanda atau Inggris) yang tidak dicetak miring, namun ada yang dicetak miring (tidak konsisten).
Tentang bahasa, David Lodge, dalam bukunya yang berjudul Language of Fiction mengatakan, "The novelist medium is language. Whatever he does, qua novelist, he does in and through language. (Medium novelis adalah bahasa. Apa pun yang ia lakukan, ia melakukannya dalam dan melalui bahasa).
Cerita/Alur Berangkat dari teori Aristoteles, yang juga diterapkan opleh novelis Eco Umberto, kisah Mangunwijaya ini masih menyuguhkan cerita, belum alur. Cerita (story) adalah bahan mentah (raw material) dan akan menjadi alur (plot) jika elalui proses kilang kreativitas sang pengarang. Tetapi sebelum dikilang, untuk mengubah cerita menjadi alur, novel ini sudah keburu terbit.
Beberapa hal yang terasa mengganggu adalah peristiwa peristiea yang terjadi secara kebetulan atau tidak diduga. Kebetulan Atik dan suaminya datang ke tempat Teto. Kebetulan Jana ingin membantu Seta membongar korupsi komputer di perusahaannya. Kebetulan, Seta menerima pesan agar Atik dan suaminya pergi haji. Kebetulan, pesawat yang membawa mereka kecelakaan, sehingga mereka tewas.
Kesan seolah-olah hanya kebetulan dan banyak kebetulan peristiwa terjadi, mestinya bisa dihindari, ketika penulis memperhatikan strukturt, mengorganisasikan kejadian-kejadian sehingga semuanya saling terkait dan membangun logika yang kuat, meskipun itu logika fiksional.
Peristiwa kecelakaan pesawat terbang yang membawa Atik dan suaminya menuju ke Tanah Suci, mestinya bisa jadi bagian yang merupakan puncak dramatik kisah ini. Tetapi pelukisan pada kejadian penting dalam novel itu sungguh datar, melepaskan momentum yang besar untuk memberi bobot kepada novel tersebut.
Unsur Struktur Dalam FIKSI NARASI(2)
Oleh Sides Sudyarto DS
REALISME MAGIS DALAM SASTRA AMERIKA LATIN
Dengan sebutan Amerika Latin, yang dimaksudkan meliputi negara-negara di Amerika Selatan, Amerika Tengah, Mexico dan pulau-pulau yang tdak berbahasa Inggris, di Karibia.
Para eksponen sastrawan Amerika Latin, antara lain:
Gabriel Garcia Marquez (Colombia), Jorge Luis Borges (Argentina), Carlos Fuentes (Mexico), Julio Cortazar (Argentina), Miguel Angel Austurias (Guatemala), Jorge Amado (Brazil), Octavia Paz (Mexico), Juan Bosch (Dominica), Jose Denoso (Chile), (Clarice Lispector (Brazil) Horacio Quiroga (Uruguay), Mario Vargas Llosa (Peru), Abelardo Castillo (Argentine), Guillermo Cabrera Infante (Cuba), Manuel Puig (Argentina), G. Cabrera Infante (Uruguay), Alvaro Mutis (Colombia), Alejo Carpentier (Cuba), Joao Guimaraes Rosa (Brazil), Felisberto Hernandez (Urugay), Ruben Dario (Nicaragua/Chile), Romulo Galegos (Venezuela), Augusto Roa Bastos (Paraguay), Maria Luisa Bombal (Chile), Juan Rulfo (Mexico), Clarice Lispector (Brazil), Joaquim Maria Machado de Assis (Brazil), Leopolda Lugones (Argentina), Jorge Amado (Brazil), Isabel Allende ( Chile), Ana Lydia Vega (Puerto Rico), dll.
Banyak para pengamat sepakat bahwa tahun-tahun 1920-an adalah saat-saat tegaknya sastra Amerika Latin. Pada tahun-tahun 1920-an itu juga, sedang bangkit nasionalisme yang sedang memasuki mood baru dan semakin bergelora. Tidak aneh, jika kebanyakan sastrawan Amerika Latin kebanyakan adalah pemikir dan pejuang kemerdekaan. Juga tidak aneh bila kemudian banyak juga sastrawan yang bergumul dan berjuang dengan terjun ke kancah poliik atau menulis karya sastra politik.
Mario Vargas Llosa menyatakan, novel dilarang terbit di negara-negara Amerika jajahan Spanyol. Selama 300 tahun (tiga abad) novel dibeton, dibendung agar jangan sampai terbit. Tujuan penajajah, sudah trentu, jangan sampai rakyat terjajah itu tersentuh oleh novel-novel yang bisa mneyalakan api semangat kemerdekaan.
The birth of the novel in Spanish Ameica coincided with the first moves towards independence. Before 1816, whatever was read in the way of narrative fiction had largely been written in Spain, and from the earliest days of the discovery and conquest a favourite form of fiction had been the Spanish romance of chivalry. (Edwin Williamson, dalam John King, On Modern Latin American Fiction, The Noonday Press, New York, 1989).
Sedikitnya ada tiga orang sastrawan besar di Amerika Latin yang sangat berpengaruh dalam pekembangan prosa, yang menulis text pada tahun 1920-an dan 1930-an. Mereka adalah Miguel Angel Asturias, Jorge Luis Borges dan Alejo Carpentier.
Miguel Angel Asturias (1899 - 1974) lahir di Guatemala City, Guatemala. Sastrawan ini berseteru dengan diktator Estrada Cabrera. Ia berada di Paris selama tahun-tahun 1920-an. Di sana ia mempelajari agama dan suku Maya serta membentu menterjemahkan Popol Vuh, kitab suci bangsa Maya, selesai tahun 1926.
Selain menjadi jurnalis, ia juga menulis puisi dan cerita berdasarkan legenda suku Indian dan Spanyol yang pernah ia dngar sejak masa kanaknya, yang kemudian terbit dalam bentuk buku, di bawah judul Leyendas de Guatemala. Psada waktu yang sama, ia pun menulis bovel yang kemudian menjadi mahakaryanya, El senor presudente (Tuan Presiden) yang sudah pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.
Novel ini merupakan serangan kepada diktator Estrada Cabrera, sehingga munculnya terpaksa tertunda dua kali masa jabatan sang penguasa. Selama tahun-tahun penindasan, Asturias menulis di pengasingan. Akhirnya novelnya itu terbit pada tahun 1947, setelah Sang Diktator runtuh pada tahun 1946.
Ketika ia duduk sebagai duta negaranya di Buenos Aires, lahirlah novelnya yang berjudul Hombres de maz pada tahun 1947. Pada tahun 1949 karya itu diterjemahkan menjadi Men of Corn. Novel ini menghardik eksploitasi tanah suku Indian yang terlalu komersialistis. Novel yang syarat mitologis ini dielu-elukan sebagai karyanya yang terindah. Tahun 1950 Asturias mulai menggarap karyanya yang tergabung dalam Trilogi Republik Pisang (Banana Tepublic Trilogy) yang terdiri dari Strong Wind, The Green Pope, The Eyes of the Interred.
Ketiga novel itu mengecam habis eksploitasi perkebenan pisang yang dilakukan oleh United Gruit Company. Ketika pemerintahan sosialis Jacobo Arbenz digulingkan oleh gangan-tangan Amerika Serikat, Asturias kembali jadi pelarian politik lagi. Di pengasingan ia menulis karya yang berjudul Weekend on Guatemala 91956).
Saat ia menerima Hadiah Perdamaian Lenin (1966) dan Gadiah Nobel (1967), fitinya sedang kembali sebagai duta besar bertugas di Paris. Ia pun kemudian menghasilkan novel yang sangat mitologis, berjudul Mulata del tal yang terbit tahun 1963. Dan masih melahirkan beberapa karya lainnya lagi.
Jorge Luis Borges lahir tahun 1899, dari keluarga lapisan menengah atas di Buenos Aires. Setelah kembara bebrapa tahun lamanya, Borges pulang untuk ikut mendirikan majalah sastra, pada tahun 1920-an itu. Pada tahun 1940-an Borges mengembangkan bentuk sastra ia sebut sebagai "fictions", satu paduan verita pendek dengan esei.
Beberapa koleksinya yang berbentuk fiction itu, adalah: The Aleph and other Stories, Ficciones, Labyrinths, dan Personal Anthology. Menurut Llosa, Borges meninggalkan jejak pengaruhnya pada karya-karya Gabirel Garca Marquez. Pada karya-karya Julio Cortazar, bahkan pengaruh Borges lebih terasa lagi.
Alejo Carpentier (1904 - 1980) dilahirkan di Havana, Cuba. Ayahnya adalah orang Prancis, ibunya dari Rusia. Ia bekeja sebagai wartawan dan jadi ediutor pada tahun 1924. Karena ikut tandatangan melawan diktator Machado, ia dijebloskan ke dalam penjara. Setelah dilepas dari tahanan ia pun pergi ke Paris. Di sana ia pun berkawan dengan kaum Surealis.
Tahun 1939 ia kembali ke Cuba dan bekerja untuk radio. Selankutnya ia hidup di Venezuela dari 1945 hingga 1950. Setelah itu ia pun meninggalkan Cuba lagi, menjadi duta besar untuk Prancis. Novel-novelnya yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris: The Lost Steps (1956), The Kingdom of this World ( 1957), Explosion in the Cathedral (1963), Reasons of State (1976), Concert Baroque (1988), The Harp and the Shadow (1990), The Chase (1990), dan kumpulan karya pendek War of Time (1970).
Banyak sekali sastrawan Amerika Latin yang bersinggungan dengan Realisme Magis, tentu saja, memberikan kesan bahwa magis realism itu merupakan satu gerakan yang serempak, menjadi dasar keadaran yang mewarnai pemikiran dan perjuangan kultural mereka. Realisme magis merupakan satu pada bersisi dua. Satu sisi merupakan alat perjuangan menolak dan melawan dominasi kultur Eropa (Barat), satu sisi lagi sebagai kekuatan yang mengangkat dan mengandalkan akar-akar budaya sendiri (indigenous) untuk menjadi dri sendiri, menjadi yang lain (Other), tidak menjadi duplikat atau cangkokan Barat. Di sini dapat dikatakan, bahwa Magic Realism adalah juga nasionalisme Amerika Latin.
Dengan dan dalam Realisme Magis itu mereka menegakkan nasionalisme, melawan penjajahan yang selama ini dilancarkan orang-orang Eropa, terutama Prancis dan Portugis. Nilai-nilai atau warna realisme magis terasa pada misalnya karya-karya Gabriel Garcia Marques, Isabel Allende, dalam kadar yang berbeda. Pada Marquez, realisme merupakan bumbu, meskipun cukup kuat terasa, tetapi pada Isabel Allende realisme magis merupakan andalamn utama dalam karyanya.
Namun kiranya, berkaitan dengan realisme magis, Carpentier adalah tokoh utama dan terkemuka. Sebagai orang pergerakan Carpentier bergabung dengan avant-garde, kerlompok nasionalis Grupo Minorista di Havana dan ikut mendirikan Revista de Avance, yang memproklamasikan komitmennya untuk bentuk dan gagasan baru.
Mengenai Realisme Magis (Magic Realism), John King dalam bukunya itu memaparkan sebagai berikut:
By celebrating the supernatural and the miraculous then magic realism inevatibly generated antinomies between faith and reason, imagination and intellect, nature and culture.
(Dengan merayakan hal-hal yang supernatural dan yang sangat ajaib, kemudian realisme magis tidak terelakkan lagi, membangkitkan antinomi-antinomi antara kepercayaan dan pemikiran, imaginasi dan intelek, alam dan kebudayaan. (John King, P. 85).
Novelis dan eseis ulung Mario Vargas Llosa, merasakan dan mengakui bahwa masyarakat atau bangsa-bangsa Amerika Latin masih memiliki kesulitan untuk membedakan yang mana itu fiksi (fiction) dan yang mana itu kenyataan (realitas): We are still victim in Latin America of what we could call "the revenge of the novel." We still have great difficulty in our countries in differentiating between fiction and reality. We are traditionally accustomed to mix them in such a way that this is, probably, one of the reason why we are so impractical and inept in political matters, for instance. [John King (Ed) On Modern Latin American Fiction, P.5]
Edwin Williamson, tulisannya yang berjudul Coming to Terms with Modernity : Magical Realism and the Historical Process in the Novels of Alejo Carpentier , memaparkan bahwa karya-karya kreatif Carpentier melakukan persambungan kembali dengan mmasa pra-Pencerahan dan pra-novel. Carpentier lebih memilih keliaran Amerika, dan memeperkuat karya ciptanya dengan kekuatan mitologis epik yang hidup di masa lampau masyarakatnya.
Carpentier 's magic realism, thereforre, harked back to pre-Enlightenment and pre-novelistic culture. In literary terms, it sought to take the novel out of its middle-class drawingroom, out of the cultivated European landscape, and thrust it into the wilderness of America, where it might recuperate the mythological power of epic and romance, those narrative forebears it had once destroyed through irony and burlesque in Europe. (P. 85)
Helen Tiffin dalam tulisannya yang berjudul Post-colonial Literatures and Counter - discourse, memandang realisme magis sebagai gerakan yang tergolong dalam wacana postcolonnial, yang menampik genre sastra Eropis.
Within the broad field of the counter-discursive many sub-groupings are possible and are already being investigated. These include 'magig realism' as a post-colonial discourse, and the replacing of carnavalesque Europen genres like the picaresque in postcolonial context, where they are carried to a higher subversive power. (Bill Ashcroft, The Post-Colonial Studies, P. 97)
Linda Hutcheon dalam tulisannya yang berjudul Circling the Downspout of Empire, yang termuat dalam kumpulan tulisan berjdul The Post Colonial Studies, memandang Magic Realism itu sebagai kekuatan Regionalisme yang satu spirit dengan postmodernisme, karena menolak sentralitas dan menepis klaim universalitas.
The regionalism of magic realism and the local and the particular focus of post- modernism art are both ways of contesting not just this centrality, but also claims of universality. (Bill Ashcroft, The Post Colonial Studies, P. 132)
Not suprisingly, since such formulations tend to resist ideas of a pure culture of either the post- or pre-colonial they have not found universal assent. They have also tended to emerge most strongly where no simple possibility for asserting a pre-colonial past is available, notably in the radically dislocated culture of the West Indies. Yet these regional patterns have formed the basis for the development of literary forms (such as 'magical realism' which have had a wide influence, and which have been applied by critics to societies of widely different kinds such as those of settler colonies…(John King, P. 184)
Sebenarnya Carpentier semula agak pesimistis akan prospek historis Amerika Latin. Namun setelah ia membaca The Decline of the West Oswald Spengler, optimisme Carpentier memancar kembali. Penjelasan Spengler tentang siklus pertumbuhan kultural membuat Carpentier mampu meredam pesimismenya. Sepulang dari kunjungan ke Haiti (1943), keyakinan dan optimisme Carpenmtier kian menyala lagi. Seperti yang ditulis Williamson:
A visit to Haiti in 1943 confirmed his emerging historical optimism. He realized that the motive force behind the first succesful movement for independence in Latin America had been the voodoo of the black slaves, not the ideas of the Enlightenment. Magic and religion- the repositories of authenticity and wholeness - were capable also of intervening positively in history as vehicles of freedom. (P.83) Literatur: John King (Ed), On Modern Latin American Fiction, The Noonday Press, New York, 1989
George Plimpton, Latin American Writers at Work, The Paris Review, Modern Library, Newe York, 2003
Pat McNees, Contemporary Latin American Short Stories, Fawcett Premier, Nerw York, 1988.
Bill Aschroft, Gareth Griffith, Helen Tiffin (Ed) The Post-Colonial Studies Reader, Routledge, London and New York, 2003
Tidak ada komentar:
Posting Komentar