Rabu, 15 Februari 2012

IKHLAS-KU

IKHLAS-KU

Cerpen Remaja Islami oleh : Imang hilman, S.pd


Malam itu begitu sunyi dan sepi. Suara adzan dan riuh pengajian anak-anak yang keluar dari toa masjid dan surau telah hilang tersaput angin. Kota ini seolah sudah mati rasa dari celoteh para kodok dan jangkrik. Menyisakan suara teriakan ketel yang beradu dengan besi kecil yang dipentungkan oleh sang penjaja mie kocok ,yang samar terdengar gemanya. Sementara sang dingin menyelinap di sela-sela malam. Merangkul semua yang dilewatinya, memberitahukan rasa pekat malam itu.
Begitulah Tasikmalaya dimalam hari. Kata orang kota ini begitu nyaman bagi mereka yang ingin istirahat.
Photobucket“Enaknya tidur kalau disini!” Begitu orang-orang luar kota berkata tentang tasikmalaya.
Tasikmalaya adalah anugerah bagi masyarakatnya. Keindahan dan kekayaan alam tak terkira jumlahnya. Kota yang dilingkup bukit yang berjajar di sepanjang jalan, membuat orang akan memicingkan matanya terpaku kagum. Di kota berjuluk seribu bukit ini menjulang gunung galunggung yang membuat orang akan terpana dengan keindahannya, bak sebuah lukisan mahakarya. Pantai selatan karang nunggal yang bertabur karang menjadi surga bagi penghuni laut, berkah bagi para nelayan, dan menjadi ladang ilmu bagi kemajuan pengetahuan.
Mungkin semua rahmat keindahanMu itu takkan dapat di logat di buku dan kitab pengajian para santri pesantren, walaupun sampai mereka mendapat titel ajengan. Ah itulah kota para santri. Mungkin doa-doa mereka yang membuat kota ini penuh rahmat dan keindahan.
Tak terasa semilir udara malam menyentuh tubuhku yang kurus dan kering. Kucoba menarik selimutku yang tlah kusam dan sedikit bau tuk menutup kaki dan badanku sampai dada, hanya sekedar untuk mengurangi rasa dingin malam yang terasa menusuk kulit tipisku sampai tulang. Tangan kanan dan kiriku saling mencengkeram, tergeletak di atas bantal yang telah dekil belum terjamah yang menjadi sandaran kepalaku. Disamping sebelah kanan, tak jauh dari tubuhku yang terbaring, masih tergeletak amplop yang tlah terbuka. Disampingnya terurai dua lembar surat serta photo seorang bocah yang tersenyum polos. Kedua mataku yang layu menatapi dinding-dinding langit putih yang sedikit berdebu dan retak. Retakan dinding itu dijadikan sarang oleh sekelompok semut kecil yang berderet mondar-mandir diantara jendela kamar yang hanya dihiasi besi-besi bulat tanpa kaca. Hewan kecil itu seolah tak memiliki beban masalah kehidupan yang begitu sarat dengan permasalah.
Kucoba membangkitkan badanku dari tidur. Mataku yang masih kesat oleh sang kantuk, mengintip diantara jeruji besi penjara, mencari tahu sang waktu lewat jam yang menempel di tembok atas luar kamar tahanan. Malam itu jam setengah tiga pagi. Seperti biasa aku berteriak meminta ijin untuk mengambil air wudlu pada sipir penjara yang jaga malam. Sipir penjara biasanya membukakan pintu tahanan dan mengawalku ke sebuah toilet sederhana untuk sekedar mengambil air wudlu, lalu mengembalikan aku lagi ke kamar tahanan.
Badanku yang telah terbungkus mukena sujud bersimpuh di atas sehelai sadjadah dengan segenap hati dan perasaan. Kuserahkan seluruh jiwa dan raga ini hanya padaNya. Sujudku adalah untaian dzikir dan doa yang keluar dari mulut basahku membasuh seluruh jiwa. Sang hening malam membuat suasana dalam khusyu menjadikan lelehan-lelehan airmata yang menetes dari ujung-ujung mata yang tlah memerah.
Tak terasa satu jam tlah berlalu. Aku yang masih terbungkus mukena dan berlabuh diatas sehelai sadjadah, mencoba memainkan bola-bola khayal. Menapaki sisi-sisi alam lamunku setapak demi setapak. Telusur sebuah alunan masa kecil yang indah. Terlintas wajah seorang wanita setengah baya yang dadanya dijadikan sandaran kepala seorang anak. Anak itu seolah nyaman bersandar pada perempuan setengah baya yang mulutnya tiada henti memainkan irama kisah.
Perempuan setengah baya itu ibuku. Dan anak yang bersandar di pangkuannya adalah aku, yang masih duduk di bangku kelas empat madrasah ibtidaiyah, atau setingkat sekolah dasar dibawah departemen agama.
Aku tersenyum sendiri menerawang bayang itu lebih dalam. Semasa aku sekolah di madrasah ibtidaiyah, sepulang sekolah biasanya aku mendapati ibuku duduk-duduk di teras sambil ngobrol bersama tetangga selepas sholat dzuhur. Biasanya pula aku yang masih berseragam lengkap dengan sepatu merek walior dan tas bergambar doraemon langsung menuju ibuku sambil bersender di tubuh hangatnya. Biasanya aku bercerita tentang pelajaran, guru, teman dan sekolah dengan manja, sembari ibuku membelai hangat rambutku sambil mendengarkan celoteh dari mulut kecilku.
Kata ibuku semasa aku duduk di sekolah madrasah ibtidaiyah, aku murid yang pandai. Dari kelas satu sampai kelas enam aku selalu mendapat rangking pertama. Dan katanya, aku dulu memiliki cita-cita untuk menjadi dokter. Ada sebuah cerita geli tentang cita-citaku itu.
Pernah suatu hari bapakku bertanya mengenai cita-cita itu kepadaku.
“Rini cita-citamu akan menjadi apa nanti? Kata ayahku.”
“Aku ingin menjadi dokter! Kataku sambil teriak.”
“Kenapa kamu ingin menjadi dokter? Tanya ayahku lagi.”
“Biar nanti kalau ibu dan ayah sakit, rini yang akan mengobatinya, gratis! Jawabku polos.”
“he…he….he…..” Tawa kecil keluar dari mulut ayahku.
“Jadi dokter itu mahal. Pokoknya kamu harus pandai, biar bisa sekolah tinggi. Dan satu pesan ibu, kamu jangan lupa pada Alloh nak.” Ibuku menanggapinya dan memberikan pesan yang sangat bijak.
Cita-citaku itu timbul berawal dari ketika aku masih duduk dikelas empat madrasah ibtidaiyah. Pada saat itu ibuku divonis oleh dokter mengidap penyakit darah tinggi, dan harus dibawa kerumah sakit. Tujuh hari ibuku meringkuk dirumah sakit. Sehingga ayahku harus membayar biaya berobat dan biaya rawat inap rumah sakit yang menurut ukuran ayah sebagai petani sungguh mahal. Yang akhirnya ayahku terpaksa menjual motor satu-satunya yang baru lunas kredit dan dua ekor kerbau. Motor itu adalah motor kesayanganku. Karena hampir setiap sore aku merengek ingin sekedar jalan-jalan mengendarai motor itu. Dan pada saat akan dijual, aku marah dan menangis seharian meminta ayah untuk tidak menjualnya. Ya karena terpaksa, motor itu jadi di jual juga. Meskipun aku sangat sedih sekali. Dari situlah timbul keinginan yang besar untuk menjadi seorang dokter.
Ah itu hanya sepotong ukiran manis masa kecil yang masih tersemat dalam hatiku
Malam yang makin larut membuat anganku semakin asyik mengembara di alam kenangan. Kali ini kulihat ada tiga orang perempuan berjilbab umur belasan, dengan seragam putih biru berjalan di jalan-jalan berbatu perkampungan. Sungguh ceria ketiga perempuan itu. Sangat asyik berbincang sambil berjalan. Yang berada di tengah-tengah itu aku semasa sekolah di madrasah tsanawiyah, atau setingkat sekolah menengah pertama di bawah departemen agama. Disamping kiriku linda, dan disamping kananku adalah rani. Mereka teman satu sekolahku.
Jarak rumahku di desa yang bernama cikembang ke sekolah memang cukup jauh. Sehingga ketika berangkat sekolah, aku harus berjalan kaki sekitar setengah kilometer untuk menuju jalan raya beraspal. Kemudian aku harus naik kendaraan umum jurusan tasikmalaya-singaparna sekitar satu kilometer menuju arah singaparna, dan berhendi di daerah yang namanya kudang. Lalu dilanjutkan naik mobil umum jurusan singaparna-cimerah sekitar dua kilometer menuju arah cimerah, dan berhenti di daerah yang namanya sukamanah. Sekolahku tepat dipinggir jalan kecil beraspal di daerah yang namanya sukamanah. Di daerah ini dikenal pahlawan nasional KH. Zaenal Mustopa yang berperang melawan belanda. Banyak kebaikan yang diwariskan olah beliau terhadap masyarakat sekitar. Salah satunya adalah warisan pesantren sukamanah yang semakin maju, yang para santrinya tidak hanya datang dari mayarakat sekitar atau biasa disebut santri kalong, tapi juga datang dari seluruh pelosok indonesia. Banyak juga pesantren-pesantren kecil yang tersebar di sekitar daerah ini, seperti misalnya pesantren sukahideung, pesantren sukamenak dan lain-lain. Pesantren-pesantren di daerah ini biasanya cenderung memperdalam kitab kuning dan alat. Sehingga para santri tamatan pesantren disini, biasanya terkenal piawai dalam membaca kitab kuning. Dan paham betul penggunaan bahasa arab yang baik dan benar, disamping mereka bisa berda’wah di masyarakat.
Aku salah satu siswi yang dikenal pandai dan rajin saat itu. Kata guruku aku sangat menonjol pada pelajaran matematika dan IPA. Dan aku juga langganan juara umum dan juara pararel di sekolah. Tak banyak memang kenangan-kenangan yang terukir saat aku duduk di bangku sekolah madrasah tsanawiyah.
Setamat dari madrasah tsanawiyah, aku melanjutkan sekolahku ke madrasah aliyah negeri, atau setingkat sekolah menengah umum di bawah departemen agama masih di sukamanah. Orang tuaku memutuskan untuk mengirim aku ke pesantren sukamanah sambil sekolah. Mereka merasa kasihan kepadaku jika harus tinggal di rumah. Karena jarak rumah ke sekolah lumayan jauh. Ya sekalian memperdalam ilmu agama islam di pesantren.
Di madrasah aliyah prestasiku sedikit menurun daripada di madrasah tsanawiyah. Itu bisa dilihat dari ranking kelas yang aku dapatkan. Dari kelas satu sampai kelas tiga hanya satu kali aku mendapat rangking pertama, yaitu saat aku duduk di bangku kelas satu aliyah. Hal tersebut mungkin dikarenakan kesibukanku di pesantren sampai aku sempat menduduki beberapa jabatan penting disana. Dan puncaknya aku menduduki jabatan roisyah. Aku juga sudah dianggap bagian dari keluarga pesantren. Dan kyai haji abdullah sebagai pimpinan pondok pesantren sudah menganggap aku seperti anaknya sendiri. Mungkin semua itu dikarenakan aku aktip dalam keorganisasian pesantren, dan dianggap ikut mengelola dan memajukan pondok pesantren secara langsung.
Disinilah pertama kali aku mengenal indahnya rasa merindu dan dirindukan oleh seorang pria. Mungkin manusiawi rasa itu datang kepadaku begitu saja tanpa ada rencana dan pemberitahuan. Dan mungkin juga itu salah satu rasa yang menjadi rahmat yang diciptakan Alloh kepada makhluknya, sebagai bagian dari kesempurnaan makhluk dari makhluk yang lainnya.
Cerita itu bermula saat aku duduk di kelas dua madrasah aliyah. Hari itu jam pertama pelajaran matematika di kelasku. Seperti biasa aku bertugas mengambil buku-buku paket matematika di perpustakaan. Karena kami belajar memakai buku sumber yang ada di perpustakaan. Satu kelas jumlah siswanya ada tiga puluh. Jarak dari perpustakaan ke kelas lumayan cukup jauh. Sehingga aku harus berjalan melewati kelas-kelas lain untuk menuju ke perpustakaan dan sebaliknya.
Belumlah jauh aku melangkah dari perpustakaan menuju kelas dengan buku-buku di kedua tanganku.
“Dug..”
Seorang siswa yang kelihatan setengah berlari dari samping kanan gang sebuah toilet menabrak aku.
“Aduh! Teriakku.”
“Bug, Bug, Bug.”
Buku-buku yang aku bawa tadi semuanya berjatuhan ke lantai.
“Kenapa sih kamu?! Teriakku lagi dengan kesal.”
Dia tidak menjawab sepatah katapun. Hanya memunguti buku yang jatuh itu satu persatu dengan terburu-buru. Lalu memberikannya kepadaku, dan langsung lari menuju ke ruang kelas tiga tanpa sapa dan maaf.
“Dasar. Mentang-mentang udah kelas tiga! Seenaknya aja nubruk orang tanpa minta maaf! E udah gitu langsung lari lagi! Gerutuku sedikit kesal.”
Dua jam tlah berlalu, mengusik pak maman untuk memukulkan besi bulat kecil pada velg mobil bekas yang tlah karat dan berlubang. Yang tergantung dipojok kanan depan ruangan guru.
Teng….Teng…Teng.
Tiga kali bel sekolah itu berbunyi, pertanda waktunya pulang sekolah. Seperti biasanya aku pulang bersama-sama temanku sambil ngobrol kesana-kemari dengan asyiknya. Aku memang orang yang gampang berteman dan santun. Sehingga temanku di sekolah banyak sekali.
Sesampai di depan gerbang ada seorang siswa meluncur kearahku. Lalu dia berkata.
“Hai! siswa itu menyapaku.”
Aku sejenak melihat dia. Mengamati wajah siswa itu dengan seksama.
“Muka itu. Dia orang yang menubrukku tadi pagi. Yang tidak tahu sopan santun. Bisikku dalam hati.”
Aku terus berjalan tanpa menghiraukan dia. Mungkin karena aku masih kesal dengan kejadian tadi pagi.
“Aku yang tadi menubrukmu. Dan aku mau minta map. Sahutnya.”
“Tadi aku buru-buru. Aku lagi belajar bahasa arab sama pak Mar’i. kata dia lagi meyakinkanku.”
Memang pak Mar’i itu guru yang tegas tapi berwibawa. Dia mengajar mata pelajaran bahasa arab di kelas dua dan kelas tiga. Teman-temanku menyebutnya guru killer. Siswa bisanya dilarang minta ijin keluar, kecuali terpaksa ingin buang air ke toilet. Itupun di beri waktu hanya tiga menit. Dan jika terlambat akan di beri tugas yang banyaknya bisa mencapai satu buku.
“Maafkan aku atas kejadian tadi!” Kata dia lagi sambil menyodorkan tangannya ke arahku untuk meminta maaf
Sejenak aku memandang dia yang menyodorkan tangannya padaku yang terlihat tulus. Sehingga aku berpikir kali ini aku harus membalas maaf itu.
“Aku maafkan kamu. Tetapi maaf, aku tidak bisa bersalaman denganmu. Kita bukan muhrim. Jawabku kemudian”
Aku hanya mengangkat kedua telapak tanganku yang di tempelkan satu sama lainnya, dengan posisi jari lurus keatas tepat dibawah dagu sambil sedikit menunduk untuk membalas maafnya.
Maklum kehidupanku yang islami mendidik aku untuk selalu menegakkan syariat islam. Memang ajaran islam mengajarkan orang yang bukan muhrim dilarang bersentuhan.
“terimakasih! kata dia.”
“Perkenalkan namaku fauzy nurrohman, mantan ketua osis. Kata dia lagi”
“Siapa namamu? Dia balik bertanya padaku.” Rupanya dia ingin mengenalku lebih jauh, atau mungkin hanya ingin tahu namaku.
Karena kerendahan hatinya untuk meminta maaf atas kejadian tersebut. akupun membalas perkenalan itu dengan namaku lengkap.
“Rini rahmi insani. jawabku singkat”
“Maaf aku buru-buru, mau pulang. Kataku seraya menghindar.”
Aku merasa tidak enak dengan teman-temanku. Dan langsung aku bergegas pulang menuju pondok pesantren bersama teman-temanku yang lain.
“Oke. Kata dia bersemangat.”
Sesampai di asrama pesantren entah kenapa kejadian di gerbang sekolah dan wajah itu tak bisa aku lupakan. Memang wajah itu cukup rupawan dengan kulit putih dan alis yang tebal.
Kejadian itu membuat hari-hariku ini selalu diisi oleh sebuah kerinduan yang teramat dalam.
Fauzy nurrohman. Nama itu yang selalu membuat hati ini gelisah disetiap gerak langkahku. Dia yang satu sekolah sekaligus satu pesantren denganku adalah asli jombang. Ayahnya adalah pemilik sebuah pondok pesantren ternama disana. Dia yang membuat hati ini terasa sungguh bergetar jika kudengar namanya.
Sore itu hujan barulah reda. Sang pelukis angkasa masih menampakan warna-warninya di balik awan-awan tipis. Satu minggu tlah berlalu semenjak perkenalanku dengan anak kelas tiga madrasah aliyah yang mantan ketua osis itu. Kubaringkan tubuhku yang tlah lelah aktifitas seharian sambil membuka dan membaca sepucuk surat yang diberikan seorang teman sepulang sekolah tadi siang. Katanya surat tersebut dari sang mantan ketua osis fauzy nurrohman. Sebait demi sebait surat itu kubaca dengah seluruh perasaan. Untaian kata yang tersemat lewat tinta hitam itu membuat dadaku serasa berdecak. Hatiku sungguh tak berdaya untuk menolak syair-syair pengungkapan perasaan. Mungkin itulah cinta pertama bagiku.
Di tahun menjelang kenaikan kelas aku mendapat cobaan yang sangat berat. Aku harus rela melepas ibuku tercinta yang berpulang kepada sang Kholik. Menurut kabar dari ayahku, penyakit jantung ibuku kambuh lagi. Dan saat akan dibawa ke rumah sakit dia sudah tidak bernapas untuk selamanya. Dan tak lama berselang aku juga harus melepas dan memulai jalinan hubungan asmara jarak jauh dengan sang mantan ketua osis itu. Dia pergi ke mesir untuk menggapai semua cita dan asa yang selama ini ingin dia raih. Beasiswa yang di raihnya dari universitas al-azhar mesir membawa dia untuk melanjutkan kuliah sarjana setelah tamat dari madrasah aliyah.
Setamat dari madrasah aliyah, aku memutuskan untuk kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta masih di tasikmalaya. Seperti pesan almarhum ibuku, bahwa aku harus sekolah tinggi meski tidak masuk kedokteran.
Inilah awal dimana hidupku begitu jatuh dan hancur.
Waktu itu baru tingkat pertama aku kuliah di jurusan bahasa inggris fakultas keguruan dan ilmu pendidikan ketika ayahku divonis oleh dokter mengidap penyakit kangker. Sehingga bapakku harus keluar masuk rumah sakit. Tanpa bekerja ayahku sungguh tak berdaya. Sawah, ladang dan kerbau sudah habis ayah jual untuk berobat dan biaya kuliah aku. Yang sampai akhirnya rumah yang menjadi nafas keluargapun terpaksa di jual untuk biaya pengobatan ayah. Masih beruntung bibi dan pamanku memiliki hati malaikat. Dia rela merawat dan menampung ayah dirumahnya.
Waktu berjalan begitu cepat. Detik, menit, jam, siang, dan malam silih berganti menuntun setiap minggu dan mengisinya dengan berbagai cobaan yang silih berganti mengisi hidup. Biaya kuliah yang menunggak, biaya kosan yang terlambat dan masalah keuangan lainnya mengisi hari-hari dan rutinitasku. Yang sampai akhirnya aku menuju suatu perkenalan dengan seorang pria yang bernama bimo. Nama aslinya adalah abimanyu nugroho. Dia orang Jakarta yang kuliah satu universitas denganku, tapi beda fakultas. Dia mengambil fakultas ekonomi jurusan komputer akuntansi. Bermula dari pembicaraan bisnis sampingan berjualan t-shirt, sampai akhirnya aku yang saat itu sungguh mendapat cobaaan meteri, terjebak dalam bisnis haram berjualan obat-obat terlarang.
Ternyata bisnis menjual t-shirt yang bimo jalani itu hanyalah kedok untuk menutupi bisnis haramnya. Semakin aku terjun, semakin jauh pula aku dari sang pencipta. Sedikit demi sedikit gaya busana islami yang aku gunakan semenjak kecil aku tanggalkan. Berganti dengan busana yang menonjolkan aurat wanita. Aku sungguh tlah dibutakan dengan semua kehidupan duniawi yang begitu membelenggu. Dan syariat islam yang selama ini kupegang tlah lepas dan terbuang. Sampai suatu hari di malam minggu, selepas aku pulang kuliah. Aku mendapati bimo yang tlah menjadi kekasihku terlihat mabuk berat di kosanku. Mulutnya yang beraroma minuman keras memainkan irama rayuan iblis padaku. Yang sampai akhirnya aku terjatuh dalam alunan rayuan iblis yang penuh dengan nafsu itu. Tak terasa busana yang membalut tubuh tlah tertanggal dari badan, tinggal nafsu amarah yang membungkus tubuh ini.
“Ya Alloh apa gerangan yang aku lakukan. Lirihku dalam hati.”
Sempat aku tersadar dan berusaha menyadarkan bimo untuk berhenti.
“Bimo sudah! Teriakku.”
“Kamu sudah keterlaluan! Kita belum menikah! Aku berusaha menyadarkan dia.”
Dia tak menjawab dan terus mendesak badanku. Sempat aku berteriak minta tolong. Tapi semuanya terlambat. Malam itu bimo tlah merenggut semua milikku yang tlah lama kujaga.
Aku tlah terjatuh begitu dalam. Hanya menyisakan untaian airmata penyesalan dan kepedihan yang selimuti jiwa ini. Bayangan ibu yang tlah meninggal dunia, ayah yang sedang sakit, dan masa laluku menebar ke dalam sanubari mendera dan menyayat hati yang begitu nyeri dan perih. Airmataku yang tak berhenti menetes menjadi teman curahan terakhir bagi bathinku.
Satu minggu tlah berlalu setelah kejadian itu. Bimo lelaki yang menjadi kekasihku, sekaligus lelaki yang aku benci pergi tanpa tanggung jawab. Menurut kabar dari teman-temannya, dia pulang ke Jakarta. Dan menurut kabar temannya yang lain, dia pergi ke rumah kakeknya di yogjakarta.
Dalam keputusasaan dan kebingungan itu, pikiranku yang kosong mulai gocang. Bisikan-bisikan syetan tlah merasuk sanubariku. Sampai di sustu pagi hari yang begitu cerah, menjelang ulang tahunku yang ke-19. Aku duduk lemas sendiri di kamar mandi kosanku. Tangan kiriku yang terkulai masih menggenggam lemas sebuah pisau cutter yang berlumur darah. Pergelangan kananku yang tlah tersayat tak henti mengeluarkan darah segar. Aku mencoba bunuh diri dengan menyayat pergelangan tangan kananku memutus urat nadi.
Dunia saat itu terasa gelap. Suara-suara aneh terdengar samar tak menentu, membawaku ke sebuah alam bawah sadar. Sampai aku tak bisa lagi mendengar suara itu.
Suara tangis membangunkan aku dari kesenyapan itu. Samar kulihat wajah ayahku, lalu bibi, paman, kyai haji Abdullah dan istrinya serta teman-temanku. Semakin jelas kulihat bapakku yang semakin kurus, duduk di kursi roda. Tangan kanannya tak henti menyeka airmata yang meleleh di wajahnya. Bibi dan teman-temanku yang masih terisak membuat suasana duka semakin terasa. Suara kyai haji Abdullah yang tak henti mengucap dzikir, membuat diriku yang terbaring dengan infusan mulai tersadar perlahan. Mata ini tak sanggup lagi membendung airmata yang terurai dari setiap sudut mataku.
“Ya Alloh sungguh berat cobaan yang kau berikan padaku ini.”
“ Aku meminta tolong hentikanlah sejenak cobaan itu, hingga aku dapat manata kembali hidup yang tlah hancur ini.” Hanya dengan suara bathin itu kusanggup bicara. Dan hanya untaian airmata yang mampu merasakan seberapa perih luka yang ada di hatiku saat itu.
Satu bulan tlah berlalu setelah kejadian yang sungguh menyedihkan itu. Selangkah-demi selangkah ku coba menata kehidupan ini yang tlah hancur. Ku coba melangkah kembali ke jalan yang lurus, walau duri-duri masih mencoba menderaku. Kuraih kembali syariah islamku dalam kehidupan. Kubalut kembali tubuh ini dengan busana-busana muslim yang tlah lama aku tanggalkan. Satu niatku yang tertancap saat itu. Aku harus mencari ayah dalam janin perutku ini, yang sedikit demi sedikit mulai membesar. Dan aku akan meminta tanggung jawab dan memohon untuk menjadi bapak anak dalam janinku ini dengan ikhlas kepada dia, karena aku tak rela jika kandungan ini digugurkan.
Tapi rupanya Alloh berkehendak lain padaku. Cerita kisah cobaan yang menimpaku belumlah berakhir sampai disitu. Malam menjelang magrib takbir mulai riuh berkumandang, menandakan esok hari kemenangan. Aku yang baru pulang dari pengajian di lingkungan kampus menuju kosanku, berniat akan berkemas untuk menyambut hari kemenangan ini bersama ayah, bibi dan pamanku. Setiba dikosan, aku mendapati beberapa orang petugas polisi tlah menggeledah kamarku, dan mendapati sepuluh butir pil extasi di lemari pakaianku. Aku menjadi satu-satunya tersangka penyimpan obat-obatan terlarang, dan di jatuhi hukuman tiga tahun penjara. Tak ada pembelaan dan saksi yang dapat meringankan atau membebaskan aku dari tuduhan, hanya Alloh yang tahu semua dibalik kejadian itu.
Begitu berat dan bertubi-tubi cobaan yang menimpa ini. Airmataku yang tlah habis, hanya bisa menahan sakitnya deraan ini dalam bathin dengan segala kesabaran, dan menyerahkan segalanya dengan segenap jiwa kepada sang Kholik. Hanya kata ‘Innalillahi wa inna ilaihi rojiun’ yang terucap pelan dari bibir basahku, karena kutahu Al-qur’an akan menuntunku.
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (Al-qur’an, surat Al-baqoroh ayat155)”
“(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, ‘Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji`uun’ (Al-qur’an, surat Al-baqoroh ayat156)”
Trang..Treng..
Suara tongkat pemukul yang beradu dengan terali besi penjara membangunkan aku dari lamunan panjang, aku yang masih terbungkus mukena dan bersimpuh di atas sehelai sadjadah berusaha untuk bangkit.
“Ya Alloh aku tlah melupakanMu dengan lamunanku itu. maafkan hambamu ini yang sungguh terlena dengan untaian masa lalu itu. deraiku dalam hati.”
Seperti biasa semua penghuni tahanan dibangunkan tepat pukul lima pagi. Tahanan muslim mengawali aktifitas dengan sholat subuh yang dilanjutkan dengan wirid, berdoa dan membaca ayat suci Al-qur’an.
Ini adalah hari juma’at, biasanya di hari jum’at ada pengajian jum’atan yang diisi oleh ceramah siraman rohani. Dan ada sesi tanya jawab seputar problematika kehidupan yang akan dipecahkan oleh al’quran dan hadist di akhir acara. Pengajian ini dipimpin oleh Ustadz Ismail pimpinan pondok pesantren raudotul bannat yang berlokasi tak jauh dari rumah tahanan tasikmalaya. Yang sengaja di datangkan olah pihak penjara satu minggu satu kali setiap hari jum’at.
Ustadz ismail adalah sahabat karib abah ajengan, atau panggilan dari kyai haji abdullah pimpinan pondok pesantren sukamanah, guru aku dulu ketika nyantri di sana. Mereka berdua pernah menuntut ilmu bersama ketika masih menjadi santri di sebuah pondok pesantren. Sehingga ustadz ismail mengenal aku dengan baik. Dan kedekatanku dengan pak ustadz ismail, membuat dia menganggap aku sudah seperti anaknya sendiri sebagaimana juga abah ajengan.
Malam itu adalah malam terakhir aku di sini. Tiga tahun tlah kulalui di tempat ini. Tempat aku menyadari akan kehidupan. Tempat aku semakin mendekatkan diri pada sang Kholik. Dan tempat aku melahirkan shauki habiburrohim. Anak suciku yang di beri nama begitu indah oleh abah ajengan.
Selepas dari penjara aku dan anakku diminta abah ajengan untuk tinggal dipondok. Dan aku di minta untuk mengajar ngaji para santri-santri yang masih anak-anak di sana. Aku juga diberi kesempatan untuk mengajar di madrasah ibtidaiyah sekitar lingkungan pondok. Hal tersebut menjadi pengobat hidupku, setelah aku keluar dari penjara dan kegagalan kuliahku dulu. Doa ayah, bibi dan pamanku menjadi pendorong untuk menerima tawaran abah ajengan itu.
Setahun sudah aku hidup di pondok pesantren, menata hidupku kembali sedikit demi sedikit dan meraih satu persatu kebaikan yang dulu terbuang.
Sore itu langit berhias awan tipis yang menguning. Selepas sholat ashar aku di kejutkan oleh seseorang tamu laki-laki yang sengaja datang ke pondok dan ingin menemui aku. Tamu itu membawa kabar bahagia dan sungguh membuat hatiku berbunga. Dia ada dihadapan aku, didampingi abah ajengan dan istrinya sebagai saksi semua yang dia ungkapkan padaku.
“Aku datang kepadamu dengan hati yang sungguh ikhlas. bayang wajah dan aromamu di setiap istikhorohku tlah membawa langkah ini terhenti dihadapmu. Maukah engkau kiranya kuminta tuk menjadi pendamping hidupku? Karena ku tlah mendengar semua cerita kehidupanmu.” Begitu tamu itu menyematkan prakata indah bagiku.
Dialah fauzy nurrohman yang membuat airmata bahagiaku meleleh perlahan. Dan dialah yang tlah berucap begitu ikhlas dan berniat menjadikan aku sebagai pendamping di kehidupannya. Dia cinta pertamaku yang tlah menuntut ilmu di mesir dan kembali untukku. Alloh telah mengirim dia kembali padaku, sebagai karunia kebaikan yang dulu terbuang.
Tak terasa tujuh tahun sudah aku berada di samping suamiku tercinta. Aku sekarang menjadi istri seorang kyai besar pemilik pondok pesantren terkenal di jombang. Semakin lengkap keluarga ini dengan kehadiran Nazwa dan Nazmi hasil buah hati perkawinanku dengan fauzy nurrohman. Keduanya menjadikan adik bagi Shauki anakku yang dilahirkan di penjara. Pesan almarhum ibuku untuk sekolah tinggi yang menjadi cita-cita kecilku tlah kuraih. Sekarang aku adalah seorang dokter yang membuka praktek di lingkungan pesantren. Pasienku adalah para santri dan masyarakat sekitar pondok. Ada satu pasien tetap yang paling aku sayangi, dialah ayahku. Aku bersyukur dapat merawat ayahku meskipun menurut analisa kedokteran usianya tak akan lama lagi.
Kabar meninggalnya bimo aku dapatkan sebulan kemuadian, yang dikirim lewat sms dari seorang temanku. Menurut kabar darinya bimo adalah buronan yang dicari karena keterlibatannya dengan jaringan pengedar obat terlarang internasional. Saat penggerebegan di sebuah daerah di Jakarta selatan, dia berusaha melarikan diri dan menembakan pistol kearah petugas, dan terpaksa polisi melumpukannya dengan tembakan yang tepat mengenai jantungnya. Dia meninggal dunia saat dilarikan kerumah sakit setempat. Dan menurut temanku itu, bimolah yang membuat aku dulu dipenjara. Dia sengaja menaruh obat-obatan terlarang dikamar kosanku. Dia melakukan itu semua karena ingin terlepas dari tanggung-jawab atas perbuatannya yang menyakitkan padaku waktu itu.
Malam itu takbir tak henti-hentinya dikumandangkan dari manjid-masjid dan surau, menandakan esok hari kemenangan bagi umat muslim. Ini adalah idul fitri ke tujuhku bersama keluarga tercinta. Suamiku, anak-anakku, ayah, pesantren dan semua kehidupan ini adalah rahmat dan karuniaMu yang maha rohman dan rohim. Aku yang masih asyik bersimpuh dihadapMu, kumandangkan ayat-ayat suci Al-qur’an yang merasuk memandikan jiwa yang sungguh lelah dengan kehidupan duniawi. Syairku sempat terhenti dan menatap sebait ayat kalam ilahi yang menyentuh hati.
“Sungguh dibalik setiap kesukaran, pasti ada kemudahan. (Al-qur’an, surat Al-insyirat ayat 5-6)”
Airmataku meleleh seketika, ayat itu membawakan sebuah makna yang dalam bagiku. Mulut basahku hanya bisa berucap.
“Ya Alloh aku takkan menghentikan dzikir dan ucap syukur padamu.”
“Dan aku kan selalu merindu tempat peraduanku itu”
“Yang menjadikan tempat curahanan segenap perasaanku padamu.”
“Di atas hamparan sadjadah.”

“Selesai”


Keterangan kata :
1. Toa : Sejenis speaker / alat pengeras suara yang berbentuk bulat yang biasa di pasang di menara mesjid yang fungsinya untuk mengumandangkan adzan / ikomah atau panggilan kepada umat untuk menunaikan ibadah sholat.
2. Santri Kalong : Penduduk sekitarpesantren yang belajar ngaji di pesantren tetapi mondok atau tinggal di rumah sendiri.
3. Logat : Membubuhi atau memberi arti / tanda pada kitab saat belajar kitab kuning.
4. Ajengan : Sebutan lain dari kyai.
5. Kitab kuning : Kitab yang dibiasanya di cetak dalam media kertas berwarna kuning.
6. Alat : Ilmu tata bahasa dalam bahasa arab.
7. Roisyah : Sebutan bagi pemimpin santri perempuan di pesantren.


Sinopsis :
Sebuah cerpen remaja islami.
Cerpen ini menggambarkan sedikit kehidupan dunia remaja, dengan berbagai karakter dan kejiwaan yang di alaminya. Juga menceritakan sekelumit dari cerminan persoalan dan permasalahan yang timbul, serta sikap dan cara-cara pengambilan keputusan dimasa-masa itu.
Dengan penokohan utama yang bernama rini. Dia hidup dalam dunia pendidikan dan lingkungan yang islami di masa kecil sampai beranjak dewasa, bahkan sempat mengecam pendidikan pesantren. Seperti juga para remaja yang lain, dia juga pernah merasakan kegoncangan jiwa, keputusasaan, juga indahnya jatuh cinta. Di usianya yang remaja dia harus menghadapi berbagai macam cobaan yang silih berganti mengisi hidupnya. Yang puncaknya dia harus menghadapi sebuah cobaan berupa kekurangan materi, yang membuat sisi gelap jiwa remajanya menggiring dia pada hal-hal yang negatip. Sampai akhirnya dia terjatuh dan harus merasakan kehidupan di dalam penjara. Tapi dia mampu untuk bangkit dan kembali menggapai masa depan dan meraih semua cita-cita yang dia inginkan.
Cerpen ini juga berusaha untuk menyampaikan pesan positip bagi para remaja, agar jangan pernah berputusasa dalam menghadapi setiap cobaan, dan tidak tergoda dalam kehidupan duniawi yang serba materialistis, serta selalu membentengi hidup ini dengan agama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar